Tuesday, January 8, 2013

"Sepucuk Surat Cintaku Buat Bunda"


Suara azhan subuh menyadarkanku dari lelapku, tersadar dari bunga tidurku. Sepercik harapan, doa untuk selalu bisa mendapkan sesuatu yang berharga, dan rasa syukur pada Sang Pencipta. Yang masih memberikanku kesempatan untuk mengirup sejuknya pagi, hangatnya mentari, dan siap ku gapai hari impianku hari ini.

Senyum terlukiskan penuh kerinduan di wajahku. Seketika itu ku ucapkan selamat pagi dan ku kecup penuh rasa sayang foto sang bunda tercinta.
“ Selamat pagi, Bunda..”.

Penuh rasa haru kerinduan teramat dalam, hingga membuat pagiku dibasahi dua tetes air mata. Namun tak lama, kembali ku bergegas memepersiapkan semuanya. Dengan segera ku ambil air wudhu, dan kulaksanakan kewajibanku sebagai seorang seorang muslim.

Setangkai bunga mawar merah, mawar putih, dan puluhan bunga melati telah ku persiapkan. Hari ini aku akan menjenguk bundaku, di tempat peristirahatannya. Segera kulangkahkan kakiku keluar dari kamar kostku yang tua itu, dan mencari mobil angkot yang berkeliaran di pinggir jalan. Alhamdulillah, tak perlu menunggu lama, angkot sudah menunggu.

Abang supir angkot meninggalkanku tepat di gerbang makam Kasih Ibu Setia. Perlahan tapi pasti, ku jalani setapak demi setapak jalan yang ada di depanku. Dari kejauhan, tak lepas pandangan mataku hanya tertuju pada satu objek, yakni makam bundaku tercinta. Rasa haru, dan rindu yang dalam semakin menebal saat semakin mendekat. Tak kuat asa ini menahan semua, ku berlari terengah-engah dan segera kupeluk makam bundaku saat ku tiba di depannya. Seketika tangisku meledak.

“ Bunda…. Angel kangen Bunda….. Angel sayang Bunda…. Angel cinta Bunda… Bunda….” Aku sungguh tak kuat menahan rasa sedihku. Aku menangis aku menangis, dan aku hanya bisa menangis. Semakin erat kupeluk makam bundaku.

Tak terasa seminggu berlalu bunda meninggalkanku. Ingin sekali rasanya ku mendekap, memeluk, dan mencium bundaku. Namun apa daya diri ini, Allah telah mengambilnya dari hidupku. Aku hanya bisa berdoa, mengikhlaskan dirinya, dan akan berusaha mencapai apa yang diinginkannya atas diriku. Anakmu akan membuatmu bangga bunda. Tak hentinya ku memeluk makam bunda dan menangis tersedu-sedu. Semakin lama, semakin membuat rasa sedih ini memuncak, mengingatkanku pada saat hidup bersama bunda.

***

Aku Angel, 16 tahun, cantik, anggun, cerdas, kaya, modis, siswa berprestasi di sekolah, hobiku musik dan basket, dan tak ada seorangpun yang tak mengenalku. Aku anak seorang pembisnis ternama di Indonesia. Hidupku sungguh sangat sempurna. Hidupku sungguh sangat bahagia. Aku memiliki seorang bunda yang selalu ada untukku, dan seorang ayah pencari nafkah yang hebat dan sangat bijaksana.

Namun, tepat saat ulang tahunku yang ke-17, semuanya lenyap dalam sekejap di depan mata. Ayahku meninggal karena ditembak mati oleh sekelompok orang yang dengan sengaja membunuh ayahku untuk menggeser posisi ayahku. Sejak saat itu, duniaku jungkir balik. Tak pernah terbayangkan sebelumnya, semua ini akan terjadi. Kini yang tersisa hanyalah aku dan bundaku. Kami berdua sangat terpukul dengan keadaan hidup kami yang seperti ini. Tidak ada lagi rumah mewah, mobil, perhiasan yang bagus, tabungan banyak, dan lain-lain. Semuanya telah direnggut olah orang-orang laknat yang tidak bertanggung jawab.

Hidupku kacau balau. Benar-benar berantakan. Diriku berubah 180 derajat, kini orang mengenalku bukan seorang Angel yang hebat seperti dulu, tapi seorang Angel yang miskin, brandal, urakan, bodoh, pemarah, dan lain-lain yang dipandang sangat jelek oleh orang lain.
Yang tak terpikirkan olehku saat itu adalah bunda. Bahkan bunda seorang yang sangat ku cinta, tak habis pikir dengan segala perubahanku.

“ Angel anakku… Apa yang terjadi padamu, nak? Bunda sangat tidak menginginkan Angel berubah seperti ini. Bukan berarti setelah kita kehilangan ayah, dan kehilangan semuanya hidup kita hancur, anakku. Kita harus bertahan”. Bunda menangis dan memelukku dengan erat.

“ Arrgghh, bunda kenapa berlebihan? Angel gak apa-apa. Angel gak berubah, bunda. Ini Angel!”. Aku melepas pelukan bunda, dan sedikit mendorongnya untuk menjauh dariku.

“ Tapi…..” belum sempat bunda menyelesaikan perkataannya, aku langsung menghela.

“ Udahlah bunda, Angel begini kar’na Angel stress, banyak yang dipikirkan. Sini uangnya, untuk bayar komite sekolah. Udah 3 bulan nunggak, bunda!” dengan suara yang besar penuh amarah kutatap wajah sedih bunda.

“ Tapi kita belum punya uang, nak. Untuk makan sehari saja kita harus ngutang. Bunda gak tau harus kemana lagi untuk pinjam uang”. Bunda semakin banyak meneteskan air matanya. Tapi anehnya, tak sedikitpun hatiku tersentuh melihat bunda menangis tersedu seperti itu.

“ Kerja dong, bun… Kerja….Ya sudahlah, Angel pergi dulu!” aku meninggalkan bunda yang sedang di kamar. Aku keluar rumah, dan kututup pintu dengan keras. Aku benar-benar seperti seorang iblis yang tega memperlakukan bundanya seperti itu.

Di sekolah, kini aku selalu mendapat tamparan hangat dengan kata-kata yang menghina oleh anak-anak gank ADC (Angel, Dila, Cia) yang dulunya mereka mengaku sebagai sahabat dalam gank ku. Tapi kenyataannya, Dila dan Cia berkhianat. Kini mereka menjadi musuh terbesarku setelah mereka tahu bahwa aku sudah tidak punya apa-apa lagi.

“ Eh gembel, mau kemana loe? Lapin dulu nih sepatu gue. Kotor! Hahaha..” Dian memerintahku dengan penuh hinaan. Cia ikut tertawa mendengar perkataan Dian.

“ Jangan kurang ajar yah, jaga tuh monyong loe! Jangan asal ngomong. Mau gue tonjok loe, hah!

“Aku sangat marah. Emosiku sudah tak tertahankan lagi, aku menarik leher bajunya, dan langsung pukulanku melayang di pipi Dian sebelah kiri. Seketika, Dian jatuh pingsan. Aku merasa puas melihat Dian tergeletak setelah dapat pukulanku. Ku tinggalkan Dian, Cia dan orang-orang di sekolah heboh dengan keadaannya.

Parahnya, kejadian itu membuatku dipindahkan dari sekolah. Memang, bukan untuk yang pertama kalinya aku melakukan kericuhan di sekolah, yang memakan korban. Andi, Dias, Roni, Aji, Raka, Reno, Afdi, Arna, dan korban terakhir adalah Dian. Mereka semua adalah korban kekerasan yang kulakukan di sekolah. Sebenarnya, mereka semua itu yang memulaiku untuk melayangkan pukulan pada mereka. Akhirnya aku harus terima kenyataan yang sangat pahit, aku diungsikan ke sekolah yang ku anggap kualitasnya minus 500 dari sekolahku yang ku cinta. Sangat kebetulan sekali, sekolah baruku berdekatan dengan rumah kontarakan yang aku dan bunda tempati.

“ Bunda…Bunda…! Suatu hari saat pulang sekolah, aku memanggil bunda sambil mengetok pintu dengan keras. Berulang kali aku memanggil bunda, sama sekali tidak ada jawaban. Lama sekali aku menunggu di depan rumah.

Beberapa jam kemudian, nampak dari kejauhan aku kenal sosok wanita itu. Tinggi, cantik, putih, berjilbab. Ternyata dia adalah bunda. Aku sangat terkejut melihat cara barpakaian bunda seperti itu. Tersentak aku terpaku melihat bundaku, seperti bidadari turun dari khayangan. Sangat cantik.

“ Angel, udah lama ya nunggu bunda? Maafin bunda ya? Bunda tadi ke melamar pekerjaan. Alhamdulillah diterima. Bunda senang sekali. Angel.. Angel.. Kenapa liatin bunda begitu? Bunda aneh ya? Nah loh, kok diem? Angel…”. Bunda berbicara padaku sambil senyum, nampak penuh bahagia sekali. Tapi, aku hanya masih bisa terdiam memandang bundaku. Belum bisa tersadarkan aku melihat
bundaku benar-benar berbeda.

“ Eh bunda, bunda dari mana? Tumben, beda hari ini. Bunda diterima bekerja? Pasti di kantoran ya? Wow…”. Aku pun tersenyum pada bunda. Sudah lama sekali aku tidak memberi senyum pada bunda. Aku hanya bisa membentak dan memarahinya.

“ Angel, kok bilang wow? Alhamdulillah dong anakku sayang… Alhamdulillah, jadi kita bisa hidup lebih baik, nak. Bunda senang sekali”. Bunda tak hentinya mengucap syukur. Dan memelukku erat. Kami berpelukan. Sudah lama hal ini tak kulakukan pada bunda. Hari itu menjadi hari yang sangat hangat sekali bagi kami berdua. Dan sejak saat itu, semuanya berasa mulai dari awal lagi, walaupun tanpa ada sosok ayah di sisi kami.

Semakin lama, semua semakin baik. Walaupun dengan hidup sederhana, hidup kami terpenuhi setiap hari, hutang yang menumpuk bisa di atasi, berkat kerja keras bunda banting tulang untuk semua. Begitu juga dengan adanya perubahan diriku. Aku perlahan-lahan menjadi Angel yang seperti dulu, walapun bukan Angel yang hidupnya sangat sempurna.

Di sekolah, aku kembali berjaya menjadi bintang lagi. Presatasi ku meningkat di segala bidang yang dulunya sedikit ku acuhkan, kepribadianku yang sopan dan anggun sangat banyak yang menyukainya. Semua orang banyak ingin berkawan dan dekat denganku. Bunda sangat senang melihatku berubah jauh lebih baik, berubah menjadi seorang diri Angel yang selalu dirindukannya.

Selang waktu 3 bulan, ada suatu kenyataan yang sangat mengiris pilu hatiku. Aku tak menyangka semuanya bisa seperti ini. Aku sengaja mengikuti kegiatan bunda sehari, karena aku ingin tau besarnya kerja keras bundaku untuk hidup kami berdua. Aku melihat semua yang bunda lakukan. Bunda tidak bekerja di kantor, tapi di jalanan. Bunda membohongiku. Pada paginya, bunda menjadi pemulung, dan siang sampai malam menjadi supir angkot. Ya Allah, betapa sedihnya melihat perjuangan bunda. Sungguh tak tega melihat pengorbanan besar bunda. Aku semakin menyadari, betapa besarnya rasa cinta bunda padaku, sampai ia rela melakukan apa saja untuk bisa menghidupiku. Aku menangis melihat semuanya. Aku menyesal telah menyakiti bunda saat beberapa waktu lalu.
Tak tega aku melihat bunda, segera ku susul bunda saat ia sedang istirahat melepas lelah setelah menyupir. Aku langsung mencium tangannya untuk memohon ampun, dan memeluknya dengan erat sambil menangis. Bunda sangat terkejut melihat kehadiranku. Bunda juga turut menangis sedih dengan kenyataan ini. Suasana yang sangat haru. Bagaimanapun keadaannya, aku tetap mencintai bunda. Bahkan aku akan lebih mnghargai lagi atas semua pengorbanan bunda. Alhamdulillah ya Allah, kau bukakan pintu hati ini untuk bisa memaknai arti hidup ini.

Pagi cerah di hari minggu, aku diajak bunda ke suatu tempat yang sangat menakjubkan. Hanya aku dan bunda. Tak jauh dari rumah kontarakan kami, cukup dengan berjalan kaki.

“ Bunda…Indah sekali..” Aku sangat takjub dengan pemandangan dari atas bukit kecil itu. Perlahan-lahan kubuka lebar-lebar kedua tanganku, dan kuhirup sejuknya udara. Subhanallah..Sangat sulit bagiku untuk melupakan rasa syukurku atas ciptaan Tuhan Yang Mahaesa.

“ Angel, duduk di sini nak. Bunda mau bicara”. Bunda memanggilku dan memintaku untuk duduk di sampingnya. Dengan segera aku mendekatinya.

“ Bunda dari mana tahu tempat ini? Ini indah sekali bunda. Angel sangat senang bisa ada di sini. Oh ya, bunda mau bicara apa?” Dengan senyum yang sumringah, ku tampakkan rasa bahagiaku pada Bunda.

Entah mengapa, saat itu jantungku tiba-tiba berdetak cepat. Aku tak bisa berkata apa-apa. Aku bingung apa yang terjadi pada bunda.

“ Bunda kenapa? Bunda sakit? “ Tanyaku pada bunda. Bunda bersandar di pundakku yang kecil ini. Terlihat wajahnya yang sangat pucat.

“ Angel anakku, ini adalah tempat favorit bunda sejak kecil. Bunda sengaja mengajakmu ke sini, karena mungkin tiba saatnya sudah. Bunda harap, Angel menyukainya”. Bunda berkata dengan sangat lembut padaku.

“ Bunda, Angel sangat suka tempat ini. Bunda kenapa mengajak Angel ke sini? Apa maksud bunda berkata tiba saatnya sudah? “ Aku bingung.

“ Anakku tercinta, bila suatu saat ini bunda tiada, bunda minta Angel sudi untuk membaca surat ini. Surat ini bunda tulis tadi malam, khusus buat Angel anak bunda satu-satunya yang sangat bunda cintai.” Bunda beranjak dari pundakku, bunda memperlihatkanku sepucuk surat berwarna putih sengaja dilipat berbentuk pesawat, dan surat itu bunda masukkan dalam sebuah kotak kayu yang sangat indah sekali.

Bunda memegang kedua pipiku sambil menatap kedua mataku. Dengan penuh haru, dan mata yang berkaca-kaca. Bunda memelukku erat sambil menangis terisak, dan anehnya aku hanya bisa terdiam seperti patung merasakan hangat pelukan bunda.
Lama bunda memelukku, perlahan-lahan ku balas pelukan bunda. Tapi entah kenapa, semua terasa dingin. Dan pelukan bunda terlepaskan. Tak ada rasa hangat saat aku memeluk bunda. Tersentak aku, ku lepaskan pelukan dan melihat keeadaan bunda. Innalillahi wainna ilairoziun, bunda meninggalkan aku saat belum sempat aku ucapkan I Love You, Bunda. Tangisku lambat laun meledak, kupeluk erat raga bundaku.

“ Bunda… Bangun… Jangan tidur di sini… hag hag.. Jangan biarin Angel sendiri”. Aku memeluk erat bunda beberapa lama dan sambil menangis atas kepergiannya.
Hari ini bunda dimakamkan, dan keesokan harinya aku pergi ke bukit itu lagi. Aku ingin membaca isi surat yang telah bunda tuliskan untukku. Dengan begitu lemahnya, ku langkahkan kakiku demi bunda sambil memeluk foto bunda.

Sesampainya di atas bukit, segera ku ambil kotak kayu, tempat bunda menyimpan suratnya. Perlahan-lahan aku membukanya, dan mengambil suratnya. Tik, tik, air mataku perlahan menitik yang bermula hanya berkaca-kaca. Jantungku berdetak sangat cepat, tak kuat rasanya untuk membaca surat putih itu. Tapi, aku harus kuat. Ini adalah permintaan bunda yang terakhir padaku sebelum ia meninggalkan aku.

Dengan lembutnnya ku buka lipatan surat putih yang berbentuk pesawat itu. Dengan tangan yang gemetaran, kuperhatikan lembar surat itu. Nampak ada tergambar bunga mawar merah, mawar putih, dan bunga melati. Kata demi kata aku membaca suratnya

-----------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------

Untuk anakku tercinta Angel Keisha Irfan.

Salam hangat kasih sayang dan cintaku untukmu anakku.

Anakku Angel,
Terus berjuang anakku tersayang, selagi matahari masih belum terbit di barat, selagi sangkakala belum ditiupkan.
Terus berjaga-jaga anakku tercinta, sebelum fajar menyingsing pagi, sebelum matahari terbangun dari peraduannya.
Jaga dirimu anakku terkaya, dari dahan-dahan dan ranting-ranting yang patah, dari tiupan angin yang semakin kuatnya, dan dari batu yang mereka lemparkan padamu.
Jadilah pemimpin anakku terbaik, menggantikan mereka yang ditiup angin.
Pakailah akalmu anakku terpndai, selagi mata masih dapat memperhatikan, selagi telinga masih mendengakan, selagi hati masih bisa memahami.
Terus berjuang anakku tercinta.
Meskipun kini tak ada lagi bunda di sampingmu, tapi doa bundamu akan selalu menyertaimu.
Bunda sayang Angel, bunda cinta Angel.
Buatlah bundamu ini bangga anakku sayang.

Anakku Angel, setelah membaca surat ini bunda minta, Angel membalasnya dan berjanji dalam hati untuk selalu melakukan yang terbaik buat Angel.
Jika Angel merindukan bunda, Angel cukup menulis surat, dan terbangkanlah dari atas bukit ini. Percayalah pada Allah, dengan kekuasaan Allah apa yang Angel ingin sampaikan pada bunda lewat surat, insyaallah akan terbaca oleh bunda.

Jaga dirimu baik anakku tercinta. Bunda pasti selalu bersamamu.

(diambil dari suatu tulisan seseorang, yang tidak diketahui namanya)
-------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------

Air mataku semakin deras mengalir setelah membaca surat itu. Kaki ku menjadi sangat lemah, tak kuat menopang badan. Aku turtuduk menangis pilu. Menangis meluapkan rasa sedihku. Dengan hati-hati, ku tulis surat cintaku untuk bunda.

----------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------
Untuk bundaku tercinta yang semoga selalu bahagia di alam sana.

Salam cinta, kasih dan sayangku selalu untukmu bundaku.

Bunda, sangat berat beban Angel untuk mengikhlaskan bunda. Angel tak mengharapkan hal ini terjadi begitu cepat. Angel sangat membutuhkan bunda. Angel sangat mencintai bunda, Angel sangat menyayangi bunda. Angel berharap bunda sudi memaafkan semua kesalahan yang pernah Angel lakukan pada bunda.

Bunda, Angel janji. Angel akan membuat bunda bangga. Angel janji, bisa membuat bunda tersenyum.

Bunda, Angel akan selalu sangat merindukanmu. Angel akan selalu menulis surat untukmu, bunda. Angel sangat mencintai bunda. Tak seorangpun di dunia ini yang bisa menggantikan cintamu di hati Angel, bunda.

Salam rinduku untukmu selalu, bundaku.
I Love You.
--------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------


Setelah selesai, kulipat suratku berbentuk pesawat, dan kutuliskan di sayapnya “Surat Cintaku Buat Bunda”.
Aku berdiri, ku pejam mataku, ku rasakan hawa yang berada di sekitarku. Aku yakin, bunda ada di sampingku.

“ Ya Allah, bahagiakanlah bundaku tercinta di sana” Aku berdoa untuk bunda. Dengan pelan, ku terbangkan suratku. Nampak jelas sekali surat itu terbang, entah kemana perginya. Aku yakin, bunda pasti selalu akan membaca suratku. I love You, Bunda. Semoga kau selalu bahagia di sana.


Maharani Rukmana Prahesti,, Banjarbaru, 21 Desember 2009

No comments:

Post a Comment