Tuesday, January 8, 2013

Namaku Sandra (Cerpen)


“ Hujan membasahi semesta, gundah gulana pun melanda. Pikiran ini seperti kapal yang terombang ambing di tengah samudera, diterpa badai, topan, petir dan kilat yang kian menghiasi sesekali memberikan kejutan cahaya langit. Adakah setitik saja harapan bintang yang bersinar meyakinkan hati ini bahwa masih ada jalan untuk terbebas atas kegalauan ini ”.
Kembali aku berkata-kata puitis, aku galau dan galau lagi. Jauh lebih dan lebih tak seperti biasanya. Nampaknya aku terkena serangan suatu penyakit, yaitu GAD. Atau bahasa ribetnya generalized anxiety disorder. Apakah kamu tahu? Bila kamu belum mengenalnya, maka tanyakan pada mbah Google. Aku hanya bisa tertawa lepas. Mungkin sebagian massa mengetahui apa yang kumaksud, tapi sebagian kalangan akan beranggapan bahwa itu hanya bahasa yang dibuat-buat agar aku terlihat lebih gaul. Ya, untuk kamu semua yang bergelut dalam ruang ilmu kesehatan, insyaAllah mengetahui apa yang aku maksudkan. Benar, aku mengalami gangguan kecemasan. Entah ini akan berujung di tumpuan mana, atau malah terus berbelok yang tiada habisnya. Semoga tidak, bantu aku menemukan jawabanya Ya Allah... 
Seorang mahasiswa duduk dibangku perkuliahan bidang kesehatan semester 1 disalah satu universitas di Kalimantan Selatan. San-San, itulah julukan kesayangan yang dinobatkan padaku, yang dianugerahkan oleh kedua orang tua kandungku dengan nama Sandra Syerlo Dermawan. Mungkin sahabat-sahabat kampusku sekarang, mengenal aku sebagai sosok yang anggun, cantik, pintar, dewasa, multi talenta, dan muslimah yang solehah. Solehah? Ya, kata ini yang akan menjadi sorotan pertama dari semua titel yang aku miliki. Apakah kamu tahu masa laluku seperti apa? Akan kuceritakan padamu, siapa aku yang dulu. Semua berawal dari tahap labilku. Sesuatu yang membuatku berpikir keras hingga detik ini. Bahkan mungkin seandainya otakku bisa berbicara, ia pasti akan menyatakan rasa betapa murkanya padaku. Aku pun sendiri tidak tahu mengapa ini bisa terjadi. Apakah ini akan membawaku dalam cahaya yang tiada habisnya? Atau malah akan membuatku buta, karena yang kulihat hanya suram, kegelapan, dan kehampaan yang tiada kesudahan.
Perempuan, wanita, atau semacamnya itulah kodratku. Tapi semua nampak jelas seperti tidak wajar. Rambut model spay (itu lho yang model rambut kaya artis Hongkong), mengenakan behel, mengenakan kaos oblong warna hitam atau putih, celana pendek yang kantongnya gede segede gaban, topi, dan sepatu kets. Sangat menyukai coklat dan permen karet. Begitulah stye seorang Syerlo. Syerlo adalah nama panggilan laki oleh sahabat-sahabatku di SMA. Mereka bilang bahwa nama Sandra gak matching dengan semua gaya dan gerak-gerikku, karena nama Sandra terlalu feminim alias kewanita-wanitaan. Aku hanya bisa menerima dengan lapang dada, tangan terbuka, dan tersenyum lebar, mirip seperti pagar ayu yang menerima tamu di kondangan acara resepsi pernikahan. Aku seorang karateka, anak pramuka, drumer, dan seorang kapten tim basket di sekolahku. Tapi jangan salah, aku memiliki hobi memotret, dan penggila sastra. Ini masih menunjukkan bahwa aku seorang anak perempuan. Lebih tepatnya, anak cewek yang masih bisa menjadi wanita seutuhnya. Karena katanya, cewek dan wanita itu memiliki perbedaan.
Semangat ’45 berkobar, tidak ubahnya seperti pejuang-pejuang yang membela mati-matian untuk kemerdekaan. Kami pun juga seperti itu, meskipun kami berbeda arah tapi tujuan kami sama, yaitu kemenangan. Hari ini adalah final pertandingan basket putri antara tim basketku melawan tim Galaksi. Kualitas permainan yang diacungi jempol, dan rasa percaya diri yang tinggi membuat kami sangat yakin akan menjadi jawara dalam Liga basket ini. Takdir pun menyetujui, seiring jalan kemenangan yang kami raih. Sebagai kapten, sudah sepantasnya aku mereguk kepuasan dan kebanggaan yang mungkin akan menumbuhkan rasa iri dari kapten tim basket yang lain.
Sepulangnya dari lokasi pertandingan, seperti biasanya aku bersama sahabat-sahabatku. Si merah motor kesayanganku dan si coklat bola basket kebanggaanku. Sewaktu di perjalanan, aku bertemu dengan kawan lamaku saat SMP tempoe doloe. Sentak aku menghentikan si merah, menggendong si coklat dan segera menghampirinya. Dan berkata “ hay Boy, kemana aja? Lama banget gak ketemu”. Lalu toss ala anak laki-laki. Ternyata orang itu berubah drastis, gayanya malah kemayu. Tidak semacho waktu aku kenal dulu. Bahkan sekarang kesibukannya menjadi penari merching band. Oh my God... Anak laki-laki memegang bendera warna-warni, keliling lapangan, bergaya ala anak perempuan. Eeeuhh, gak banget...Melihat seperti itu, aku rasanya jadi mual pengen muntah.
Rasa deg-degan, tidak tahu awal mula dan datangnya dari mana. Seperti rasa takut, atau malah rasa kaget. Dua orang perempuan cantik berambut panjang, bermaskara tebal, bersoftlens biru, dan berpakaian seksi  mendekatiku saat sedang mengobrol dengan Boy. Mereka tersenyum sumringah dan sesekali saling berpandangan diantara posisiku. Berambut pirang di sebelah kanan, dan berkawat gigi di sebelah kiri. Gak ada ujan, gak ada gerimis, gak ada ojek, becek, hahahahahahaha (kata cinca waura), dua wanita itu malah merangkulku dan meraba-raba wajah mulusku sambil ngoceh, nyablak, cerewet, ketawa-ketiwi. SKSD alias sok kenal sok dekat. Asli, tidak sekedar bulu roma atau bulu kuduk kata penyanyi dangdut, tapi semua bulu terasa berdiri gara-gara kejadian itu. Wajahku membiru pucat, badanku panas dingin, rasanya sudah ingin tewas ditempat. Segera ku alihkan pembicaraan dan kutinggalkan mereka. Pulanglah aku menuju rumah dengan kecepatannya super duper tinggi, sampai-sampai tali gas si merah hampir tidak bisa kembali mengendur seperti semula.
Masih terngiang-ngiang, terbayang-bayang, bahkan sampai menjadi bunga tidur dalam berminggu-minggu. Kejadian itu sangat mengganggu dan menghantuiku. Sudah ku coba untuk melupakan, tetap saja tidak bisa. Apalagi setelah aku tahu bahwa dua anak cewek itu memang penyuka sesama wanita. Oh my God pangkat lima, rasa takut berkecamuk dalam diriku. Keinginan menangis untuk melampiaskan rasa ini sangat besar, tapi nyatanya aku tak mampu untuk melakukan. Aku bingung. Apakah mereka berdua menyukaiku karena gayaku yang seperti anak laki-laki? Aku bercermin, dan aku baru tersadar bahwa aku lebih cocok dikatakan tampan daripada cantik. Pantas saja kalau perempuan mengidolakanku, dan laki-laki melupakan kehadiranku. Sejak saat itu, aku mengurangi tingkah tomboy yang selama ini menjadi statusku. Sekali lagi, mengurangi bukan menghilangkan. Ke sekolah mengenakan bandana, atau jepit rambut. Bahkan aku berhenti dari klub karate. Semua kulakukan, karena aku merasa ini lah yang terbaik untukku sekarang.
Perlahan setelah setengah tahun berjalan seiring waktu, kejadian itu tak lagi mengganggu kehidupanku. Lebih tepatnya, itu terekam kuat dalam memoriku, namun tidak akan merusak mimpi-mimpi indah di depanku. Sekarang, aku duduk di bangku kelas II IPA 1 (Ilmu Pengetahuan Alam). Suatu kebanggaan bagiku, mengingat kedua orang tuaku adalah jurusan sastra. Mungkin aku salah satu keturunan yang akan merubah sejarah dalam keluarga. Walaupun jurusan IPA, aku tetap mencintai dunia fotografi dan sastra. Apabila ada waktu senggang atau istirahat, aku sesekali menulis puisi, atau memotret di sekitar sekolahku. Seperti hari ini, aku membuat sebuah puisi yang bernuansa kesunyian dan memotret beberapa tingkah laku yang tak lepas pandang dariku. Aku sangat senang melakukan kegiatan ini, sebagai sumber inspirasi dan sumber pelampiasanku.
Melihat kembali hasil potret yang ku dapat di sekolah. Satu foto close up yang tidak sengaja tertangkap di kamera lomo ku. Seorang siswa berkulit putih sedang membaca buku di bawah pohon. Aku akui, dia tampan. Dapat kupastikan apabila dia tersenyum sangat manis. Sumringah aku saat mengetahui ada wajahnya di kameraku. Rasa deg-degan di hatiku. Ini sama sekali tidak pernah kurasakan sebelumnya. Serasa terdengar nyanyian lagu “Menatap indanya senyuman di wajahmu, membuatku terdiam dan terpaku...”. Apakah ini yang namanya cinta pada pandangan pertama? What? Sejak kapan seorang Syerlo mengenal cinta. Apa itu cinta? Tapi aku sama sekali tidak mengenalnya, bahkan untuk pertama kalinya aku tahu dia satu sekolah denganku.
Niatku untuk mengenalnya. Setidaknya, aku bisa menjadi orang terdekatnya sekalipun hanya seorang teman yang mengagumi. Di sekolah, aku selalu memperhatikan gerak-geriknya. Bisa dikatakan, waktu dia masuk kelas, kantin, lapangan, bahkan ke kamar mandipun aku tahu. Bukan seperti penguntit, tapi detektif. Hingga tanpa terasa, banyak sekali informasi dan foto wajahnya yang ku dapat. Saat dia tertawa, tersenyum, kelakuan konyolnya bersama teman-temannya, bahkan saat dia sendiri dan termenung pun ada. Aku jadi merasa lebih hebat daripada wartawan yang mengumpulkan banyak data dan informasi.
Anak laki-laki itu bernama Fahrezi Sinatrya Candida Feryaldi dan nama akrabnya adalah Fahri. Kelas II IPA 1. Baik, pintar, pemain basket juga seperti aku, dan orangnya sholeh. Harapanku untuk menjadi kekasihnya cukup besar. Hanya saja, masalahnya adalah aku takut. Jangankan mendekatinya, mengajak berkenalan saja aku sudah serasa dipukul 1000 orang body guard dan 1000 penyamun, dan itu sama sekali tidak pernah berhasil. Apalagi setelah aku tahu, bahwa Fahri menyukai tipe wanita yang anggun, cantik, pintar, dan yang paling penting adalah berjilab. Hah? Berjilbab? Dari kriteria, aku sudah gagal. Nol besar. Aku menjadi pesimis, semua impian dan harapan seperti layang-layang yang terlalu terbang jauh tinggi ditiup angin.
Seperti biasa, aku mengamati Fahri dari jauh, dan tiap ada kesempatan ku potret dia, dan semua kukumpulkan menjadi satu album yang khusus tentang dirinya. Baru kali ini, seseorang benar-benar membuatku kagum, sampai membuatku termenung. Aku sangat memikirkannya. Tiba-tiba, saat aku sedang asyiknya termenung. Seseorang mengagetkanku dari belakang. Berbalik badan, dan agak sedikit jengkel, aku berdiri dari tempat duduk. Sosok yang tidak ku kenal. Melihatnya pun baru pertama kali. Anak perempuan berkulit coklat, semampai, dan berkerudung lah pelakunya. Dia mengajakku berkenalan. Ngakunya sich anak baru getoh.... Namanya Bianka, pindahan dari Singapura. Karena ibunya meninggal, jadi Bianka ikut neneknya yang tinggal di Indonesia.
Entah mengapa, aku dan Bianka menjadi sangat akrab, orang-orang mengenal kami seperti soulmate. Pernah sempat ada gosip yang beredar bahwa aku dan Bianka punya hubungan. Karena aku dan dia sangat berbeda sekali, aku tomboy sedangkan Bianka sangat feminim. Hal itu tidak kami gubris, kami anggap “anjing menggonggong, kafilah berlalu”. Akan tetapi, tetap ada perasaan tidak enak antara aku dan Bianka. Aku melihat dari ekspresi wajahnya, Bianka ingin mengakatakan sesuatu, sesuatu yang tidak biasa. Ternyata dugaanku benar, Bianka mengatakan bahwa aku harus berubah. Aku harus menjadi wanita tulen, bukan wanita jadi-jadian seperti sekarang.  Aku hanya bisa terdiam mendengar semua nasehat darinya, dan aku pikirkan benar-benar saat aku pulang.
“ Syer, kamu harus berubah. Jangan seperti sekarang. Ini bukan kamu yang sebenarnya. Kamu diciptakan Allah dengan kodrat sebagai seorang wanita, bukan pria. Tidak masalah kamu menyukai basket, bermain drum, bahkan mungkin naik gunung sekalipun. Tapi ini hidupmu yang nyata. Aku akan sangat menghargai niatmu apabila ingin berubah untuk jadi lebih baik, lebih menghargai dirimu sebagai seorang muslimah yang sesungguhnya. Jangan takut Syer, aku akan membantumu semampuku. Karna, Syerlo sudah kuanggap seperti saudara kandungku sendiri. Aku mau kamu bahagia, kamu senang, kamu dapat memilih mana yang benar, dan kamu mendapatkan apa yang kamu inginkan. Aku minta, kamu pikirkan ini baik-baik, karena ini demi kebaikanmu juga. Untuk hidupmu “.
Dua hari aku tidak masuk sekolah dengan keterangan sakit. Aku benar-benar seperti mendapat pencerahan. Atau mungkin dapat dikatakan aku terbangun dari tidurku selama ini. Mungkin ini membuat Bianka bingung, dan hari itu ia datang ke rumah ku. Dengan secara tiba-tiba ia sudah berada di kamarku. Kaget setengah ons aku yang baru selesai mandi. Ya, tanpa membuatnya menunggu lama aku bergegas mengenakan pakaian.
“ Apa ini ? “ Sigap aku bertanya dengan sebuah kotak yang diberikannya pada ku. “ Buka deh Syer, aku rasa kamu butuh ini” Bianka menjawab pertanyaan dengan tenang. Hah? Jilbab? Apa-apaan ini. Aku terdiam menunduk, sambil memegang jilbab berwarna hijau itu. Aku sangat bingung ingin berkata apa. Seperti ada yang meneriakkan sesuatu di telingaku, tapi tidak terdengar jelas. Tidak terasa, air mataku menetes mengalir melintasi hidungku yang mancung dan pipiku yang chubby. Bianka mengambil jilbab dari tanganku. “ Ini aku belikan bukan buat ngelap ingus, bu... Tapi begini cara memakainya... Nah... Begini kan cantik, pasti Fahri naksir kamu deh! “ Bianka mengenakan jilbab itu di kepalaku sambil tertawa lepas. Aku hanya bisa tersenyum dan memeluknya, sambil mengusap air mata dan sedikit cairan yang keluar dari hidungku. Ini akan membuka jalan baru lagi atau akan membuatku semakin tersesat.
Setelah kejadian itu, rasa teriakan itu perlahan-lahan mulai jelas terdengar di telingaku. Aku masih takut untuk memastikan. Aku takut salah dengar. Aku bercermin kembali. Ku coba mengenakan jilbab itu. Ku jepitkan peniti di bagian leher, hingga jilbab terpasang sempurna. Aku tersenyum lebar. Aku seperti melihat bukan diriku yang selama ini. Di cermin yang kulihat adalah sosok orang lain yang belum aku kenal sama sekali. Kembali aku meneteskan air mata. Ternyata aku baru sadar, betapa cengengnnya aku. Aku mengira bahwa Syerlo selama ini adalah sosok yang kuat, tegar, tidak ada kata menangis dan pasrah.
Tak lama terdengar adzan magrib. Suara itu menggetarkan hatiku, air mataku semakin deras mengalir. Hampir mengalahkan air keran yang lagi macet. Bahkan jantungku agak sulit untuk berkontraksi dan berelaksasi. Sepertinya tekanan darahku naik, dan efek waktu reaksiku menurun. Kewajibanku sebagai seorang yang Islam, telah lama meninggalkannya. Aku jarang shalat. Shalat hanya magrib, sisanya aku lalai dan lupa dengan sengaja. Mengucapkan Astagfirullah ataupun alhamdulillah saja tidak pernah sekalipun terucap dari mulutku. Aku wanita, tapi aku malah menampakkan seperti laki-laki. Aku seharusnya merawat makhota ini, bukan memotongnya model cepak cincang seperti sekarang ini. Apa yang sudah terjadi denganku selama ini? Setan apa yang sudah merasuk ke tubuhku yang mungil ini? Tak berlama-lama menunggu mumpung setannya keluar dari tubuhku, aku segera mengambil air wudhu.
Aku mulai semua dengan niat, perlahan mengangkat takbir “ Allahu akbar “ hingga salam. Terbata-bata aku membaca ayat-ayat Allah. Bukan karena aku sudah lupa dan menghafalnya kembali, tapi ayat demi ayat ku resapi maknanya di hati. Alhamdulillah aku masih hafal dan fasih melafalkannya yang diajarkan ibuku dulu. Ku panjatkan doa pada yang Mahakuasa. Berderai air mata ini, mengenang dan mengingat semua kesalahan yang pernah aku lakukan. Akulah manusia yang berlumuran dosa. Bahkan lebih suci yang berlumur lumpur kotoran 1000 tahun, dibandingkan saking hinanya aku.
“ Ya Allah... Ampunilah dosa hambamu selama ini. Hamba yang melupakan semua kewajiban, dan melalaikan semua perintah Mu. Bimbing hamba ya Allah. Bukalah pintu kalbu ini dengan segala rahmat Mu, sentuhlah hati ini dengan kasih sayang dan cinta Mu, ya Allah Tuhan ku yang Mahakuasa...Aku berserah kepada Mu, hanya kepada Mu...” Meraung-raung aku mencurahkan isi hatiku. Aku katakan bahwa aku lelah, aku tidak sanggup, dan aku bingung dengan semua yang ada di hadapanku. Aku bersujud untuk beberapa saat hingga perlahan aku menjadi tenang.
Malam ini aku berencana ingin mengatakan pada ibuku, bahwa aku ingin mengenakan jilbab, dan merubah cara berpenampilanku selama ini, dan juga ingin menceritakan semua yang telah terjadi. Mulut komat kamit sambil bersepeda santai, mendengarkan musik mengelilingi stadion olahraga, aku memikirkan dan menata kalimat yang ingin ku sampaikan pada ibuku. Semoga rencana ku berhasil malam ini. Tanpa sengaja saat sedang asyik-asyiknya, aku melihat Biaka di bawah pohon di ujung stadion. Dan, astagfirullah... Dari jauh aku melihatnya melakukan hal yang tidak sepantasnya ia lakukan bersama laki-laki. Kenapa bisa?
Setengah sadar dan tidak, aku seperti orang konyol di jalan raya. Pandangan kosong, bermimik bingung. Masih kepikiran dengan hal tadi. Kenapa bisa Bianka melakukan itu? Sedangkan dia berjilab, rajin ibadah, orangnya juga baik. Bahkan aku baru tahu kalau dia punya teman dekat laki-laki. Ia tidak pernah menceritakan hal ini padaku. Aku kembali bingung, setelah kejadian ini, jadi atau tidak mengenakan jilbab? Aku jadi merasa belum siap untuk memegang amanah berjilbab. Apa kata orang bila aku masih ugal-ugalan, aku masih belum terbiasa dengan sikap baru yang lebih sopan, apalagi aku punya banyak teman laki-laki. Itu bisa saja akan merusak nama baik jilbab. Ih, itu orang berjilbab. Tapi kok kelakuannya seperti itu ya? Jangan-jangan berjilbab cuma mau cari sensi, bergaya atau menutup aib. Aku tidak mau kata-kata seperti itu muncul.
Mengatakan yang ingin dikatakan, tidak semudah saat aku berlatih komat-kamit kemarin. Apalagi saat kembali teringat kejadian yang aku lihat kemarin. Hari ini aku menyendiri tanpa ditemani Bianka. Dan memang hari ini aku juga tidak melihan Bianka berhadir di sekolah, tidak tahu apa yang sekarang terjadi dengannya. Kembali aku memotret bersama permen karetku, dan cukup lama tak memperhatikan Fahri. Memang aku tidak mengenakan jilbab, tapi perlahan aku mengenakan jaket dengan tutup kepala untuk belajar membiasakan diri. Seperti objek yang hilang, aku tidak melihat Fahri. Padahal, aku sangat berharap bisa melihat senyumnya hari ini. Wajah jadi suram karena tidak menemukan sosoknya.
 “ Hay...” seseorang menyapa ku dari belakang. “ Coklat ? “ dia menawarkan coklat padaku. Aku diam seribu bahasa, aku kaget, aku terkejut, aku syok, apalah namanya yang mirip itu. Aku hanya bisa mengucapkan huruf A. Seperti orang yang tidak hafal abjad. Fahri menyapa ku, OMG Oh My God..... Mimpi apa aku semalam. Berasa kejatuhan durian runtuh. Rezeki nomplok booo. Dalam hati aku tertawa, tapi tetap jantung ini berdetak cepat, wajah pucat pasi malu-malu ayam. Dengan santainya Fahri duduk di sebelahku.
“ Umm... cuacanya cerah ya. Coba deh lihat awannya, lucu ya. Kenapa Syerlo diam aja? Eh, namamu memang benar Syerlo kan? Oh iya, aku Fahri “. Dia berbicara sesuka jidatnya, panjang melebihi rel kereta api. Sambil senyum, sesekali tertawa malu di depanku. Aku jadi lucu sendiri, sepertinya ia menutupi rasa gugupnya dengan cara berbicara seperti itu, dan aku malah sebaliknya. Hahahahaha. Dia menyodorkan tangannya, dan aku menyambutnya dengan hangat. Perkenalan itu terasa unik dan khas. Tiba-tiba saja menyapa, menawarkan coklat, dan menunjuk awan yang berbentuk love. Berasa ilfill (ilang feelling). Ternyata orang yang kukagumi selama ini, begini caranya berkenalan. Setelah perkenalan itu, kami mengobrol dengan santai. Membicarakan mata pelajaran, ekskul di sekolah, bahkan cerita konyol anak kecil mungil nyempil yang sukanya ngupil juga jadi pembahasan. Kalau seperti ini, aku akan sangat cepat mudah akrab dengannya. Tersenyum aku sembunyi-sembunyi dalam hati.
Lama tak terdengar kabar Bianka, sudah seminggu ini. Sempat aku menunjungi rumah neneknya, tapi tidak ada seorang pun. Cukup heran dengan dengan hilangnya Bianka. Padahal banyak yang ingin kuceritakan, dan kutanyakan padanya. Sempat terdengar kabar bahwa Bianka kembali ke Singapura bersama keluarganya. Tapi, tidak jelas alasannya seperti apa. Cukup bersedih, karena baru sebentar memiliki sahabat sepertinya. Seandainya memang berpisah, kenapa haru seperti ini caranya? Meninggalkan jejak yang belum aku pahami, mengerti, dan penjelasan yang jelas atas kejadian kemarin. Semoga saja, aku cepat mendapat kabar darinya. Lindungi sahabatku Ya Allah...
“ Syer... Syerlo... Ada surat nih... Katanya dari Bianka. Ibu taruh di meja kamarmu ya...” Ibu memanggilku saat aku masih di halaman belakang. “ Iya... Makasih ya bu...” Aku menyahut sembara berlari mencuci tangan dan kaki, dan segera mengambil surat. Ku baca amplop, memang benar dari Bianka, dan surat ini dikirim dari Singapura. Segera ku sobek samping amplop coklat itu. Ku baca isi surat yang ia tulis dengan pena hitam.
“ Sahabatku Syerlo, maafkan aku. Aku tidak bermaksud untuk pergi tanpa pamit. Karena aku merasa, saat itu di rumahmu bukan waktu yang tepat untuk mengatakan semuanya. Jujur, aku sangat senang bisa memiliki sahabat sepertimu. Aku bangga padamu. Apalagi setelah tahu perubahan terjadi, seorang Syerlo menjadi yang jauh lebih baik. Sekarang aku pindah ke Singapura. Aku menikah, karena aku hamil. Semua karena kecerobohanku, sahabatku. Maafkan aku bila aku membuatmu kecewa. Jaga dirimu baik-baik sahabatku. Jangan biarkan dirimu terbuai dengan sesuatu yang menyesatkan. Mungkin ini suratku yang pertama dan terakhir. Terima kasih sudah memberiku kesempatan untuk tersenyum disampingmu. Selamat tinggal sahabatku. “ Tertanda Bianka.
Aku terkejut setelah membaca surat pengakuan itu. Rasa kecewa, rasa kasihan, bercampur menjadi satu. Aku menangis tersedu-sedu setelah mengetahui kenyataan itu. Apalagi setelah melihat foto pernikahannya. Mungkin suara tangisku terdengar oleh ibu, ibu menghampiriku. Kuceritakan semuanya pada ibu. Semua yang sudah terjadi denganku, saat aku disukai sesama wanita, saat aku mengagumi sosok Fahri, seorang sahabat yang kubanggakan menikah karena kecerobohannya, dan saat aku ingin berubah menjadi wanita muslimah yang sebenarnya dengan mengenakan jilbab kemanapun aku melangkah ke luar. Tangisanku meledak di pelukan ibu. Ibu menasehatiku, dan berusaha membuatku untuk tenang. Saat itu aku benar-benar syok, sepertinya saat itu benar-benar puncak rasa bingung, dan khawatirku selama ini. Nafasku mulai memendek, oksigen sulit kuhirup, dadaku kembang kempis. Alamat lah sudah, asma ku kambuh. Beberapa saat aku menjadi tak sadar dibuatnya.
Aku menjadi murung sejak saat itu, aku sering melamun, dan menyendiri. Teman-teman yang mengajakku berbicara tak satupun ku hiraukan, bahkan Fahri sekalipun. Ada rasa trauma yang masih melekat dalam diriku. Tak bisa dipungkiri usaha yang kulakukan, terlebih ibuku. Bermacam-macam yang beliau lakukan untuk mengembalikan mentalku seperti dulu. Hingga saat itu, diam-diam aku memperhatikan ibu. Ibu menangis sambil memandang fotoku bersama beliau. Spontanitas aku memeluk ibu dari belakang, dan meminta maaf seraya mencium kaki ibu. “ Syerlo sangat sayang ibu... Maafkan Syerlo selama ini yang sudah membuat ibu sedih dengan segala tingkah laku Syerlo, Bu... “ Aku menangis, dan menangis. Ibu dengan kuatnya berkata lantang, walaupun sambil berderai air mata pula “ Tidak apa-apa anakku sayang, ibu mengerti “. Saat itu 22 Desember, bertepatan hari ibu. Ku rasa ini adalah saat yang tepat untukku menyatakan.
“ Selamat hari ibu, Ibuku tercinta. Semoga selalu dalam lindungan Allah SWT. Selalu menjadi penerang, panutan, malaikat, pahlawan, sahabat terbaik, dan protektor yang selalu menyayangi, mengasihi, dan mencintai ananda bagaimanapun keadaannya. Ibu, sempurnanya dirimu melengkapi sukma, mendampingi sempurnanya Allahi. I Love You Bu...” Dengan terbata-bata kunyatakan perasaanku pada ibu.
“ Terima kasih, semoga gelombang keberuntungan selalu menopang pada jiwa tuntunan bagi anak ibu, biar jadi anak sukses dunia akhirat. Tiada kebahagiaan lain dihati seongsok ibu selain kesuksesan buah hatinya. Sekali lagi terima kasih anakku “. Ibu menjawab pernyataanku. Kami larut dalam kasih sayang, sudah lama kami rindukan bersama.
Tahun ajaran hampir berakhir di kelas III SMA. Tersenyum kembali, lupakan masa lalu. Apakah kamu tahu? Sekarang aku mengenakan jilbab, tidak laki-laki seperti dulu. Sekarang aku wanita tulen, meskipun begitu aku masih menyukai basket, fotografi, dan tetap pengila sastra. Sahabat terdekatku kini Fahri, walaupun kadang rasa kagum itu menghantui untuk tidak menjadi sekedar teman. Tapi aku rasa, ini saja sudah membuatku senang. Setidaknya sampai aku menemukan sosok yang benar-benar menjadi pendamping hidupku.
Hari ini adalah hari dimana kami mengikuti tes untuk memasuki dunia perkuliahan. Rasa gugup, takut, tapi berusaha tenang. Aku dan Fahri sepanjang perjalanan mengubah suasana ini menjadi riang. Kami bercanda bersama, bergurau bersama, berfoto berdua, menceritakan hal-hal konyol yang baru kami temukan. Hanya saja saat itu, tiba-tiba aku merasa takut kehilangannya. Seakan, aku tidak mau apabila dipisahkan dengannya. Apalagi saat aku melihat senyum bahagianya, rasanya senyum itu ingin ku bawa pulang dan ku simpan di dompet supaya bisa aku pandang setiap saat. Lamunan sesaat itu, membuatku sedikit mengurangi candaku. Aku lebihkan untuk memperhatikan sosoknya benar-benar saat bersamaku. Aku hayati, sangat terasa kasih sayang itu. Ya Allah, aku baru menyadarinya. Kenapa baru sekarang? Aku mengira saat itu, itu hanya karena kagum sesaat. Ternyata rasa itu semakin tumbuh. Aku hanya bisa terdiam dan tersenyum memandangnya.
Di pantai ini suasananya sangat bagus. Ide yang sangat cemerlang oleh Kepala Sekolah untuk mengajak kami ke tempat ini setelah menyelesaikan tes di universitas tadi. Udara yang begitu sejuk membelai raga, melihat gelombang yang saling berkejaran, burung-burung bernyanyi riang dengan nada do rendah sampai kembali do tinggi. Kesempatan ini tidak kami lewatkan oleh aku dan Fahri. Kami bermain main air, berkejar-kejaran, tertawa lepas, riang gembira bersama. Ini sangat mengesankan bagiku, dan kenangan yang sangat mahal apabila di beli.
Melepas lelah, kami duduk berdua di bibir pantai. Kami saling bercerita satu sama lain. Baru saat itu, aku melihat Fahri meneteskan air mata. Ia mengatakan bahwa ia sangat merindukan sosok ibu yang telah meninggalkannya, semenjak ayah dan ibunya berpisah. Aku juga ikut terhanyut dalam kisahnya. Kuberikan ia sapu tanganku untuk mengusap air matanya. Saat itu, aku menjadi kaget. Fahri bersandar di bahuku, ia memintaku untuk tidak menolaknya. Perasaan yang tidak enak, aku turuti keinginannya.
“ Syer, apa kamu ingat saat kita berkenalan dulu? Hahaha. Itu kejadian yang sangat lucu, aneh, dan unik bagiku. Aku tidak pernah melakukan hal itu kepada orang lain kecuali kamu Syer. Awalnya, aku mengira ini adalah impian yang terkonyol untuk bisa menjadi orang terdekat bagimu. Tapi kenyataannya, sekarang aku malah bisa bersandar, bercerita, tertawa, dan tersenyum bersama denganmu. Syerlo, kalau boleh jujur, aku sangat senang kamu menjadi lebih baik sekarang. Apalagi setelah mengenakan jilbab. Apa kamu tahu? Jilbab itu dikenakan karena Allah ta’ala. Alasan belum siap itu hanya pembelaan, siap tidak siap sebenarnya harus siap. Jilbab adalah batasan akhlak seorang wanita, Syer. Aku rasa kamu mengerti apa maksudku “ Fahri mengatakan ini, tanpa ku sela sedikitpun. Ia pun tidak bersandar di bahuku lagi, malah berbaring di sampingku.
“ Syer, aku ingin kamu tahu. Aku sangat menyayangimu, aku mencintaimu, aku sangat senang bisa mengenalmu di dunia ini. Semoga kita bisa dipertemukan di tempat yang lebih indah. Oh ya, aku ingin memanggilmu dengan nama Sandra. Ingin ku lakukan dari dulu. Sandra yang cantik “ Fahri kembali berucap.
Saat aku berpaling dan melihat wajahnya, Fahri meninggalkanku. Ia tersenyum dengan raganya yang terbaring pucat. Innalillahi wainnailaihi roziun.. Aku berteriak “Fahriiiii..”Aku menangis didepannya.
Sekarang aku duduk di bangku kuliah. Semua kenangan indah kusimpan dengan baik dalam hati. Sejak semua pengalaman hidup yang ku alami, maka aku bertekad untuk menjadi lebih baik. Seorang muslimah sejati bernama Sandra.

 Cerpen Inspired   by:  Maharani Rukmana Prahesti , Desember 2011

No comments:

Post a Comment