Wednesday, December 19, 2012
…dia menangis tersedu-sedu saat mengucap sumpah perkawinan… (catatan kecil dari Jepara)
Tampangnya sangar seperti kebanyakan anak motor lainnya, gayanya “slengekan” seperti kebanyakan anak seniman, badannya tatoan alasan seni yang keliatan kaya preman pasar. Rambutnya gondrong seperti bermusuhan dengan sampu bermerk mahal. Watak keras acuh tak acuh dan pantang menyerah itulah gambaran untuk seorang laki-laki yang juga sahabatku.
Siapa sangka, dengan tampang dan watak seperti itu bisa juga menitikkan air mata dan menangis sesegukan di hadapan orang banyak, yang itu tidak pernah tercatat dalam buku rencana hidupnya sedikitpun. Tapi itulah kenyataannya dan benar benar terjadi. Saat saat itu dimana hanya dengan membaca sumpah perkawinan di lembaran buku nikah kecil seorang yang terlihat kuat dan tegar berubah seratus delapan puluh derajad menjadi seperti anak kecil yang kehilangan ibunya di tengan pasar yang hiruk pikuk. Dia menangis sejadi jadinya.
Disini kita dapat mengambil hikmah dan pelajaran, betapa mulia dan sucinya ikatan perkawinan, yang hanya orang yang mengerti saja yang bisa memaknainya secara mendalam, hingga dengan tanpa bisa menahan airmata pun jatuh dengan sendirinya,.
…segeralah menikah jika engkau telah mampu, jangan ditunda tunda…
Subscribe to:
Post Comments (Atom)
No comments:
Post a Comment